Biasanya
fotojurnalisme, atau sering disebut juga foto liputan, reportase, membosankan
dan tidak ada seninya. Pendapatan wartawan foto juga termasuk rendah terutama
dibandingkan dengan foto komersil atau potret. Dalam dekade terakhir, ada upaya
untuk menyegarkan foto liputan, yaitu dengan mengkombinasikan seni ke dalam
foto liputan. Saya sendiri menyambut
positif elemen artistik ke dalam fotojurnalisme. Elemen ini membuat foto
menjadi lebih menarik untuk dinikmati.
Lalu,
bagaimana caranya membuat fotojurnalisme menjadi lebih artistik?
KOMPOSISI
Saya
pikir komposisi adalah poin yang sangat penting untuk membuat foto menjadi
lebih artistik, tidak terkecuali dalam foto liputan. Banyak prinsip komposisi
yang ada dan bisa dicoba-coba. Tantangannya adalah jenis komposisi yang mana
yang sesuai dengan apa yang ada di depan kita.
Salah
satu prinsip dasar yang paling banyak digunakan adalah Rule of Thirds, yaitu
menempatkan subjek utama 1/3 dari badan foto, daripada memposisikan subjek di
tengah-tengah badan foto.
Lalu
saya juga suka mencari pola dalam foto, yaitu bentuk yang berulang-ulang
seperti kain batik.
Contoh
komposisi pola: Di sini, saya menangkap tiga orang nenek-nenek sedang tersenyum
saat mendengarkan ceramah
Kita
juga bisa “break down” (membongkar) suatu pemandangan ke elemen-elemen dasar
grafis seperti garis, segitiga, persegi panjang, lingkaran dan lain-lain.
Kombinasi
komposisi garis dan perspektif (Saat membuat foto ini, saya jongkok sehingga
sudut pandang lebih menarik daripada bila saya berdiri). Foto juga terlihat lebih
tiga dimensi karena saya mengunakan lensa lebar
Selain
itu, kita bisa mengubah perspektif / sudut pandang kita, misalnya naik ke
tempat yang lebih tinggi, atau jongkok dan tiarap. Menggunakan lensa lebar juga
bisa membuat sudut pandang yang lebih menarik.
MINIMALISTIK
Untuk
membuat foto Anda keliatan lebih nyeni lagi, Anda bisa mencoba membuat latar
belakang menjadi kabur. Dengan demikian, subjek Anda akan lebih menonjol dan
latar belakang menjadi seperti efek lukisan.
Untuk
membuat foto menjadi benar-benar minimalistik, kita harus benar-benar
memperhatikan latar belakang, cari latar belakang yang polos dan tidak rumit,
sehingga saat di blur dengan setting aperture/bukaan besar, latar belakang
benar-benar mulus sehingga tidak mengganggu perhatian pemirsa akan subjek utama.
OLAH FOTO
Setelah
di foto diambil, kita bisa memproses foto kita di Photoshop atau Lightroom.
Karena fotojurnalisme, maka saya tidak memanipulasi foto. Yang saya lakukan
biasanya adalah melakukan fine tuning warna, eksposur dan kroping.
Kadang-kadang saya mengubah foto menjadi hitam putih bila saya merasa fotonya
akan lebih enak dilihat.
Memang
teknologi piranti lunak sangat hebat sekarang dan mudah sekali dilakukan, tapi
yang paling penting tetap adalah saat pengambilan foto, jangan sepelekan itu
dan jangan pernah terbersit pemikiran seperti “Ah nanti aja di betulin atau
dipercantik di Photoshop atau piranti lunak pengolah foto lainnya. Juga, saya
sarankan jangan terlalu asik mengolah foto (over processing) sehingga inti dari
foto tersebut hilang atau berubah.
Sumber
: http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar